Disudut kamarku yang dingin dan gelap, hanya lampu tidur selalu kunyalakan.
aku terlalu takut akan gelap, terlalu sunyi dan abu-abu.
lalu ku rebahkan tubuhku diatas kasur yang tak lagi empuk untukku sadarkan.
bantal dan guling pun tak lagi enak kupakai, hanya saja kupaksa agar tetap nyaman disana.
ku tatap langit-langit kamar, ku cerna lagi kata-katanya yang terpaksa meninggalkanku karena memilihnya.
ku ingat lagi betapa aku menyakiti perasaannya dengan semua kata-kataku yang menusuk bagai jarum.
ku coba merasakan betapa hancur dan sakit hatinya saat itu ketika aku melukai hatinya.
ternyata rasa sakit yang pernah dimilikinya lebih sakit daripada yang aku miliki sekarang.
ku tatap sekali lagi langit-langit kamarku.
masih terbayang betapa aku dulu menyayanginya tanpa sepengetahuannya.
masih terbayang betapa aku harus menyakitinya demi ibundaku tersayang.
masih terbayang betapa bodohnya aku ketika aku bilang 'maaf aku tidak menyukaimu'.
padahal dalam hatiku merintih sakit menahan perasaanku yang semakin membesar kepadanya.
betapa takutnya aku ketika hatiku semakin ingin memilikinya, mengingatkan aku pada masa laluku bersama orang itu.
betapa beratnya aku menahan nafsuku untuk tidak memeluk dirinya, untuk mengusap pipinya.
Sulit.
beberapa kali rasa sayangku dirasakannya, hanya mengira-ngira rupanya dia.
jikalau dia pintar, dia akan sadar akan perasaanku saat itu. saat aku memeluknya tak sengaja.
ternyata dia hanya mengira-ngira.
ku ingat saat dia mendekatiku betapa aku tidak menyukainya. aku tidak percaya padanya.
melihatnya yang mendekati teman-teman perempuanku lalu datang menemuiku dan mencoba menelusuk dalam hatiku.
'hey kau pikir kau siapa?' itulah kata hatiku.
ku tutup serapat mungkin pintu hatiku untuknya.
benar-benar aku tak ingin dia masuk ke dalam hatiku yang masih hancur karena orang itu.
kenapa dia keras kepala dengan kelembutan dan ketulusannya.
aku masih tidak percaya padanya.
lembut aku rasakan sentuhan ketulusannya dalam hatiku.
Ya, dia berubah dari orang lain, menjadi sahabat terbaik dalam hidupku.
semudah itukah dia menemukan kunci hati yang telah aku buang jauh-jauh dari hidupku?
HEBAT!
perlahan dia menelusup dalam hatiku dengan kelembutan kata-katanya, kesabaran dalam dirinya, keteguhan jiwanya, kesucian hatinya.
aku tidak mampu menahannya lebih lama didepan pintu hatiku yang sudah usang dan tak berbentuk itu lagi.
lalu aku biarkan dia masuk dalam hatiku, perlahan dan pasti.
dia membersihkan debu-debu, dan mengobati hatiku yang terluka sedikit demi sedikit.
prosesnya panjang.
hingga satu saat ada yang terjadi dalam diriku. ya saat itu.
~Bersambung

Tidak ada komentar:
Posting Komentar