Total Tayangan Halaman

18 Juni 2012

Manusia bersayap malaikat *Part 2*


Saat itu kurasa terasa asing.
asing pada diriku.
aku bersumpah tak akan jatuh cinta padanya.
ku langgar sumpahku. 
hatiku berkhianat pada diriku yang mengucap sayang padanya dari dalam jiwa.
sungguh ini menakutkanku, aku cemas ini akan berubah buruk.
sebelum semuanya terlambat, aku bohongi diriku, aku bohongi diriku yang membutuhkannya.
ku biarkan ini berjalan sesuai semestinya. 
aku dan dia bersahabat.

suara diluar kamarku mulai gaduh.
mulai membuatku risih dan aku tersadar dari lamunan panjangku.
lamunan yang mengingatkanku saat aku menyakiti hatiku sendiri.
kini ku cerna lagi maksudnya dia telah memilih wanita lain, bukan aku.

hari itu lelahku menguap ketika kulihat dia mendekati wanita itu di depan kedua mataku.
sungguh dalam diriku timbul gejolak membara penuh amarah.
kubilang pada hatiku 'TIDAK! Kau tidak boleh keluarkan isi hatimu sekarang! jangan kau kesal!'
bodohnya hatiku, dia menguasai seluruh jiwa dan ragaku.
tak lagi kupikirkan bagaimana orang lain melihat tingkah lakuku.
ku biarkan cemburu ini menguasai aku.
Dia, tidak tergerak melihat diriku. matanya tak lagi tertuju padaku.
ada apa ini? sungguh gundah dalam hatiku mulai menyeruak.
kenapa matanya tidak lagi menatap aku?
kenapa senyum tidak lagi untukku?
ada apa ini?

tumpahlah semua air mata penyesalanku di sepanjang perjalanan pulangku.
ku sisakan sedikit rasa sakit hatiku, dan ku kumpulkan semua rasa penyesalan dalam diriku.
'Kau bodoh! tidak kah kau sadar selama ini aku berusaha untuk mempercayai cintamu padaku! Aku bodoh! tidak bisa jujur pada hatiku sendiri karena mencintaimu!' . ku ucapkan beberapa kali hingga aku tiba di kamarku yang remang, tidak begitu gelap itu.
saat itu aku merasa, mengapa kamarku begitu dingin. mengapa kamarku begitu sunyi.
aku sadar. aku telah sendiri.
ku kumpulkan seluruh tenagaku yang tersisa untuk menekan nomor telponnya.
ku kumpulkan semua kemampuanku untuk berkata semua yang aku rasakan padanya.
masih aku berkata dalam hatiku yang kini meronta kesakitan tiada tara.

'Ibunda... aku turuti apa katamu, kau ingin aku memiliki lelaki yang tampan, saleh, baik, jujur, dan mapan seperti yang kau ingini itu, ibunda.. Tapi mengapa ibunda, rasa sakit ini ku rasakan lagi ketika aku kehilangan dia, orang yang bukan seperti yang kau inginkan ibunda? . Ibunda, aku sedih sekali. aku tidak bisa menahan perasaanku lagi. Maafkan aku, ibunda.. aku mencintainya.'

ketika nada sambungnya terdengar, membuatku gila. menunggu dan menunggu.
dia mengangkat telponku disebrang sana.
sunggu aku ingin menangis sekuat tenagaku.
ku urungkan niatku.
ku atur nafas terengah-engahku yang masih sesegukan menangis.
dengan sisa kekuatan yang ada dalam diriku, aku beranikan diri mengungkapkan apa yang terjadi padaku.
apa yang aku rasakan dengannya saat itu dan semuanya! 
ku telanjangi semua hatiku yang mencintainya!

betapa bahagianya aku ketika dia berkata 'aku menerimamu'.
2 hari yang kulewati dengannya penuh kurasakan air mata.
ketika dia berikan kejujuran yang pahit.
seketika semua kenangan masa laluku seperti memutar kembali seperti rol film yang memutar dengan mambabi buta!
ku dengar suara-suara hantaman bola yang kuterima dulu.
ku dengar riuh semua orang menyoraki ku karena hal yang tidak ku mengerti
ku dengar sahabatku memakiku tanpa tahu apa salahku.
ku lihat tatapan jijik ke arahku.
ku lihat tatapan meremehkanku.
ku lihat semua dengan jelas masa laluku yang menyedihkan dan penuh kesakitan itu.
dan dari semua yang kulihat dan semua yang ku dengar, hanya ada satu orang yang menyakitkan yang kuingat saat itu.
Orang itu, mengkhianati dan memakiku dengan semua tenaganya, hingga hatiku tak lagi kurasakan.

Gelap. 
gelap yang kurasa, hanya suara-suara riuh yang mengkhawatirkan keadaanku dalam keadaan pingsan.
rasanya saat itu aku tak ingin bangun dari alam bawah sadarku.
Tuhan terlalu menyakitkan mengetahui kejujuran pahit itu.
Menahan semua rasa sakit itu sendiri bagaikan membiarkan semua duri bunga mawar melukai tanganku.
ketika kesadaranku kembali di dalam diriku.
aku menatap ke arahnya. Nanar. 
Sakit. Perih. Tersenyum.
ya Aku tersenyum pahit.

~Bersambung



Tidak ada komentar:

Posting Komentar